Penyuluhan yang dilakukan oleh Lentera Anak Pelangi sebagai upaya advokasi dan edukasi masyarakat ada yang bersifat preventif / antisipatif dan ada yang bersifat responsif. Penyuluhan yang bersifat preventif adalah bentuk edukasi kepada lapisan masyarakat seperti kepada lingkungan sekolah, orangtua murid, tokoh agama dan tokoh masyarakat di mana penyuluhan yang dilakukan bertujuan untuk menyampaikan informasi dasar tentang HIV dan AIDS bukan berdasarkan adanya kasus tertentu.

    Penyuluhan ini lebih bersifat mengajak lapisan masyarakat untuk mengetahui dengan benar tentang HIV dan AIDS sehingga mengurangi kemungkinan mereka melakukan diskriminasi maupun stigma terhadap orang yang terinfeksi maupun terdampak HIV. Selain itu, penyuluhan jenis ini juga bermanfaat untuk memberikan informasi yang benar seputar penularan HIV agar mitos yang beredar di masyarakat bisa dihilangkan, dan masyarakat bisa menjaga agar diri mereka tidak terinfeksi dari perilaku-perilaku beresiko.

    Sementara, penyuluhan yang bersifat responsif adalah upaya tanggap dari Lentera Anak Pelangi terhadap kasus – kasus yang terjadi di masyarakat seperti kasus diskriminasi anak di lingkungan sekolah. Penyuluhan bersifat responsif ini biasanya dilaksanakan setelah adanya kasus serta permintaan dari pihak sekolah atau bisa juga merupakan inisiatif dari LAP untuk memberi penyuluhan demi mengubah paradigma masyarakat terhadap anak yang terinfeksi HIV.

    Di tahun 2010, Lentera Anak Pelangi bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan The Body Shop Indonesia memproduksi sebuah film dokumenter berdurasi 25 menit yang berisi tentang kasus diskriminasi pada anak HIV yang dialami oleh 3 keluarga yang didampingi oleh Lentera Anak Pelangi.

    Film ini digunakan sebagai media advokasi bagi masyarakat secara umum, dan sekolah, guru, orangtua murid, serta murid sekolah secara khusus.

    Mengapa disebut #HIV365? Harapannya, melalu kampanye ini masyarakat umum bisa peduli dengan isu HIV tidak hanya pada 1 Desember (Hari AIDS Sedunia) saja, tetapi 365 hari atau setiap hari dalam satu tahun. Dalam kegiatan ini, dilakukan juga pemeriksaan HIV gratis disertai dengan konseling pra dan paska tes.

    Selain itu dipamerkan juga beberapa karya anak-anak yang terinfeksi HIV, beberapa foto yang menggambarkan kehidupan di sekitar mereka, serta ajakan untuk peduli baik dalam bentuk ikut berpartisipasi untuk berfoto dan mengirimkan pesan terkait anak HIV maupun melalui kotak donasi yang tersedia.

     

    One Child One Life Projekt adalah pameran foto yang bercerita tentang kehidupan anak dengan HIV yang didampingi oleh Lentera Anak Pelangi. Ada tiga tema besar yang disampaikan dalam pameran ini yaitu kehidupan, masyarakat, serta hasrat anak dengan HIV. 

    Pameran ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2017 selama satu bulan di Kunstkring Gallery, Menteng. Melalui pameran ini diharapkan masyarakat lebih memahami dan mau turut peduli pada kehidupan anak dengan HIV. Selain itu, pameran ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap anak HIV dan keluarganya.

    Lentera Anak Pelangi tidak hanya melakukan kampanye melalui pameran saja tetapi juga memanfaatkan sosial media. Melalui online campaign, LAP berharap dapat menjangkau lebih banyak orang sehingga informasi seputar HIV terutama anak dengan HIV dapat diketahui oleh masyarakat luas.

    Selain itu, kampanye dan edukasi melalui sosial media LAP dilakukan dengan gaya yang lebih bersahabat dengan konten-konten yang tidak menakutkan. Hal ini dilakukan agar masyarakat bisa mengenal isu HIV pada anak lewat cara yang menyenangkan dan tidak menakut-nakuti.

    Berikut adalah akun sosial media LAP:
    Facebook  
    Instagram
    Twitter