Situasi Jakarta akhir-akhir ini

    Sejak akhir 2019, intensitas hujan cukup tinggi dan menyebabkan beberapa wilayah Jakarta kebanjiran. Tahun 2020 juga harus diawali dengan kerepotan menghadapi banjir dan kekhawatiran terserang berbagai penyakit. Hujan besar juga terjadi pada malam sebelum Imlek dan lagi-lagi banjir menghampiri beberapa wilayah di Jakarta. Beberapa keluarga yang didampingi oleh Lentera Anak Pelangi (LAP) harus mengungsi dan beberapa bertahan di rumah ketika banjir melanda rumah mereka.

    Ketika Jakarta sedang menghadapi bencana alam tersebut, dari China terdengar kabar bahwa seseorang telah tertular virus Corona terbaru. Kasus ini terdeteksi pada 17 November 2019, lalu pada 15 Desember telah ada 27 kasus dan kemudian menyebar dengan cepat hingga menginfeksi banyak orang dan telah menyebar ke berbagai negara. Banyak negara yang segera melakukan upaya pendeteksian kasus dan pencegahan. Hingga muncul kasus di Indonesia, pemerintah menangani pandemi ini dengan lambat dan belum mengeluarkan kebijakan yang tegas dan dapat diandalkan.

    2 Maret 2020, kasus pertama COVID-19 di Indonesia diumumkan. Pemerintah segera membentuk gugus tugas untuk menindaklanjutinya. Pemerintah juga menyatakan bahwa Indonesia sudah siap menghadapi virus COVID-19 tersebut. Namun jumlah kasus orang yang terinfeksi virus COVID-19 sangat cepat bertambah, hingga pada 16 Maret 2020, Presiden Indonesia akhirnya menyampaikan untuk memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

    Jika kita lihat dalam peta sebaran kasus COVID-19, jumlah kasus terbanyak ada di Jakarta, sehingga aspek-aspek kehidupan warga Jakarta terganggu karena menghadapi bencana virus ini. Mereka yang bergantung pada pendapatan harian kesulitan mendapatkan penghasilan, tidak sedikit yang mengalami PHK, anak-anak tidak dapat bersekolah, dan banyak hal lainnya yang dirasakan.

    Kondisi Anak dengan HIV selama pandemi COVID-19
    Ketika pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertama COVID-19 dan diinformasikan bahwa penularan virus tersebut cukup mudah, muncullah berbagai reaksi masyarakat. Salah satu reaksi yang muncul di awal adalah “panic buying”. Pemberitaan di media massa juga turut mempengaruhi banyak orang memborong beberapa barang secara besar-besaran. Situasi ini dterjadi karena adanya kepanikan serta tidak adanya kebijakan tegas dari pemerintah untuk memberi jaminan kepada masyarakat. Selain itu belum ada kebijakan pengendalian pembelian barang.

    Bagi mereka yang mampu, membeli dalam jumlah banyak dan menyetok kebutuhan sehari-hari dan barang-barang yang dibutuhkan untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 tentu dapat dilakukan. Namun, banyak orang yang tidak mampu dan mungkin dalam kondisi rentan tertular menjadi tidak dapat membeli barang-barang tersebut. Belum lagi, harganya semakin mahal karena kelangkaan barang. 

    Anak dengan HIV adalah salah satu kelompok yang terdampak aspek kehidupannya karena COVID-19 di Jakarta. Mereka memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena sudah ada virus HIV di dalam tubuhnya. Mereka juga perlu melakukan kontrol kesehatan dan mengambil obat secara rutin ke layanan kesehatan. Ada kalanya mereka sakit atau dalam keadaan darurat sehingga harus segera ke layanan kesehatan. Namun dalam situasi ini mereka diliputi kekhawatiran karena dalam kondisi tidak sehat, mereka memiliki risiko lebih tinggi untuk terpapar COVID-19. Situasi ini tentu sangat sulit untuk mereka hadapi. Ketakutan mereka terpapar COVID-19 di layanan kesehatan menjadi salah satu penghambat mereka untuk dapat segera berobat ke layanan kesehatan.

    Di tengah pandemi COVID-19, anak dengan HIV juga mengalami kesulitan lain. Beberapa jenis obat antiretroviral (ARV) yang biasanya mereka konsumsi terbatas sediaannya, bahkan stoknya kosong di beberapa layanan kesehatan. Kekososongan stok ARV ini mengakibatkan beberapa anak harus diganti ARVnya dan  mengonsumsi ARV jenis lain, dengan risiko adanya efek samping. Anak yang tidak cocok dengan jenis obat pengganti sangat mungkin mengalami efek samping dan tentunya akan berpengaruh pula pada kepatuhan mereka dalam terapi ARV.  Selain efek samping, jumlah, rasa, atau ukuran obat pengganti yang lebih besar juga membingungkan pengasuh saat menyiapkan atau anak dalam mengonsumsinya. Padahal, kepatuhan terapi ARV sangat penting untuk memastikan jumlah virus tidak bertambah dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

    Selain persoalan obat, pemenuhan nutrisi anak dengan HIV juga semakin terkendala karena pencari nafkah dalam keluarga tidak dapat bekerja seperti biasa lagi. Berdasarkan laporan manajer kasus LAP, sebagai dampak ekonomi, ada anak yang kekurangan susu sehingga diganti oleh pelaku rawatnya dengan jenis susu kemasan kaleng kental manis. Akibatnya anak mengalami diare. Selain itu, banyak keluarga yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sangat berdampak pada kehidupan anak-anak yang didampingi oleh LAP. Situasi ini sebenernya tidak spesifik dialami oleh anak-anak ini saja, tapi juga oleh sebagian besar masyarakat, bahkan masyarakat dunia. Anak-anak yang tadinya pergi ke sekolah harus belajar dari rumah dan mereka harus bisa menyesuaikan jadwal mereka. Masalah muncul ketika fasilitas untuk mengakses pelajaran secara online dari rumah tidak ada, orang tua atau pelaku rawat lainnya tidak siap untuk menjadi guru di rumah, anak tertekan dengan tugas yang banyak, atau anak sama sekali tidak belajar di rumah.

    Prinsip PSBB juga ternyata tak semudah itu diterapkan. Sebagian besar keluarga yang didampingi oleh LAP adalah bagian dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Mereka tinggal  dan hidup di kawasan padat penduduk. Cukup sulit bagi mereka untuk menerapkan prinsip jaga jarak dengan benar. Selain itu, rumah mereka bukanlah rumah yang besar dan nyaman. Jumlah penghuninya biasanya banyak, sehingga kondisi ini juga menyulitkan mereka. Bagaimana bisa melakukan isolasi mandiri di rumah ketika yang tersedia hanyalah sebuah ruangan tanpa sekat tempat semua anggota keluarga tidur di malam hari?

    PSBB juga memberi dampak pada kegiatan pemantauan kondisi kesehatan dan dukungan psikososial yang rutin dilakukan oleh LAP. Kunjungan rumah dan layanan kesehatan menjadi terbatas. Pendampingan dan pemantauan kondisi anak dan keluarga dialihkan menjadi pendampingan dan pemantauan jarak jauh melalui telepon.  Namun ada pula keluarga dampingan yang tidak memiliki telepon sehingga satu-satunya cara adalah tetap melakukan kunjungan langsung kepada mereka. Sebelum PSBB diterapkan, anak yang akan mengambil ARV mau tidak mau harus datang ke layanan kesehatan.  Namun saat ini kebijakannya sudah diubah sehingga anak tidak diwajibkan untuk datang ke layanan kesehatan dan pengambilan ARVnya bisa diwakilkan oleh manajer kasus LAP. Dengan demikian, manajer kasus yang harus tetap melakukan kunjungan rumah dan pendampingan di layanan kesehatan harus mengikuti protokol pencegahan penyebaran COVID-19.

    Bantuan sosial untuk Anak dengan HIV
    Situasi pandemi COVID-19 mau tidak mau membatasi ruang gerak semua orang. Berbagai aktivitas di luar rumah harus dilakukan dengan protokol pencegahan penyebaran COVID-19. Aktivitas ekonomi juga banyak yang terhenti dan menimbulkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk mengatasi permasalahan ini, berbagai upaya telah dan masih dilakukan oleh pemerintah maupun pihak lainnya termasuk pembagaian bantuan sosial kepada masyarakat terdampak.

    LAP juga tetap memberi bantuan berupa susu pertumbuhan dan makanan bergizi bagi dampingan setiap bulan. Dukungan beberapa donatur dalam bentuk bantuan paket sembako dan masker juga disalurkan LAP bersamaan dengan distribusi susu. Selain itu, ada juga bantuan yang dikirimkan oleh mitra LAP menggunakan jasa kurir.

    Terkait bantuan, pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan untuk membagikan sembako bagi masyarakat yang terdampak COVID-19. Pada tahap-tahap awal pemberian bantuan tersebut, pendataan dilakukan oleh LAP untuk memastikan bahwa semua anak dan keluarga mendapatkan bantuan. Namun masih banyak yang belum mendapatkan bantuan tersebut. LAP kemudian mengupayakan untuk mengakses bantuan yang disediakan oleh pemerintah bagi anak atau keluarga terdampak. Melalui komunikasi dengan pelayanan Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia, LAP akhirnya terhubung dengan balai rehabilitasi sosial yang memberikan dukungan pada anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

    Sembako bukanlah satu-satunya kebutuhan yang muncul dalam situasi pandemi COVID-19. Sebagian besar keluarga dampingan LAP juga terkendala dalam memenuhi kebutuhan lainnya, seperti gas untuk memasak atau sayur mayur yang tidak ada dalam bantuan sembako. Selain itu, mereka yang tinggal di rumah kontrakan juga sangat kesulitan untuk dapat membayar kontrakan karena tidak penghasilan saat ini. Sebagian dampingan bahkan harus berhutang untuk memenuhi kebutuhannya selama masa ini.

    Kondisi yang tidak menguntungkan ini rasanya memperberat situasi yang sudah dihadapi oleh anak dengan HIV dan keluarganya di Jakarta. Seperti kita, mereka juga berusaha untuk bisa bertahan dan melalui masa-masa ini sebaik mungkin. Kita ber harap pemerintah dapat cepat dan tepat dalam mengambil tindakan untuk mengatasi pandemi ini. Masyarakat juga diharapkan dapat melakukan tindakan pencegahan yang dibutuhkan agar tidak menambah kasus COVID-19 di Indonesia. Gerakan gotong royong harus diperkuat agar semakin banyak masyarakat yang terdampak COVID-19 bertahan hidup dan pada akhirnya berhasil melewati masa sulit ini.

    ***

    Ditulis oleh: Riama Siringo, Manajer Psikososial Lentera Anak Pelangi