Ingatan saya masih sangat jelas tentang seorang anak perempuan bernama Eka. Kala itu usianya belum genap tujuh tahun. Eka sudah terinfeksi HIV sejak lahir. Ayah dan ibunya sudah meninggal dan ia hanya tinggal bersama nenek dan bibinya.

    Eka didiagnosis terinfeksi HIV setelah berkali-kali dirawat di rumah sakit. Kondisi terakhirnya adalah gejala gizi buruk. Kecurigaan dokter terhadap badan Eka yang sudah sangat kurus mendorong dokter menawarkan tes HIV atas persetujuan keluarga. Eka membutuhkan waktu hampir satu bulan untuk pemulihan kondisi gizi buruknya di rumah sakit.

    Selepas itu, Eka diserahkan kembali pada pengasuhan keluarganya. Nasihat dari dokter terkait pilhan asupan gizi, kepatuhan minum obat, serta pantangan lainnya sudah disampaikan dengan jelas kepada keluarga. Sayangnya, perihal pemberian obat masih sangat sulit dipahami oleh keluarganya. Bagi nenek dan bibi Eka, harus memberikan obat antiretroviral (ARV) kepada Eka setiap 12 jam sekali di jam yang sama setiap hari adalah beban. Atas keberatan ini, dokter tidak berani memulai terapi ARV untuk Eka.

    Orang dengan HIV tidak serta merta diberikan obat pengendali laju perkembangan virus ini tepat setelah terdiagnosa. Selain syarat klinis yang harus dipenuhi, adanya orang yang bisa dipercaya dalam pendampingan minum obat, terutama pada anak adalah hal yang wajib.

    Alpanya pendamping minum obat dapat berakibat tidak patuhnya orang dengan HIV dalam mengkonsumsi ARV. Ketidakpatuhan dalam terapi dapat berujung pada resistensi virus pada obat, bahkan dapat menghantar pada kematian.

    Nenek dan bibi Eka memang sibuk berjualan di pasar. Namun sebenarnya bukannya tidak mungkin untuk membantu Eka dalam terapi ARV. Pemberian ARV bisa saja dilakukan sebelum mereka berangkat kerja dan malam sepulang kerja. Tapi lagi-lagi, ini persoalan kesiapan keluarga untuk mendukung anak.

    Eka bukan satu-satunya anak dengan HIV di Jakarta yang sudah yatim piatu. Berdasarkan data pendampingan Lentera Anak Pelangi, ada 93 anak HIV yang saat ini didampingi oleh lembaga tersebut. 90% sudah yatim piatu. Nasib mereka lebih beruntung daripada Eka. Paling tidak ada satu anggota yang mau bertanggung jawa dalam terapi ARV sehingga dokter berani memberikan obat tersebut.

    Eka akhirnya meninggal pada suatu Kamis sore di bulan April, lima tahun lalu. Kematian Eka meninggalkan pilu yang mendalam. Ada sesal dan kesal yang terasa karena pengabaian keluarga akan kondisi Eka. Kalau saja keluarganya mau meluangkan waktu untuk merawat Eka dengan sepenuh hati, mungkin Eka masih bertahan hidup. Paling tidak, Eka kini sudah beristirahat dengan tenang, tak lagi diabaikan oleh nenek dan bibinya, oleh keluarga yang seharusnya memberikan kehangatan serta cinta untuk dirinya.

    Anak tak bisa memilih dari siapa ia dilahirkan. Anak juga tak bisa memilih dalam keluarga seperti apa ia bisa dibesarkan. Anak hanya tahu bahwa dirinya membutuhkan kasih sayang dan kasih sayang terbesar itu mestinya berasal dari keluarga.

    http://indonesiana.tempo.co/read/80011/2016/06/29/natasyasitorus/anak-hiv-butuh-keluarga-yang-mendukung