Irwanto


Pendiri, Penasehat, Penanggung Jawab

Lahir di Purwodadi Grobogan, 28 April 1957.
Lulus drs Psikologi UGM 1982; Lulus PhD Child Development and Family Studies, Purdue University USA – 1992. Pada saat ini, Pak Ir adalah Dosen Fak. Psikologi Unika Atma Jaya – Jakarta dan FISIP-UI. Ko-direktur Pusat Kajian Perlindungan Anak dan Disabilitas – FISIP –UI. Senior Advisor – Pusat Penelitan HIV dan AIDS, LPPM, Unika Atma Jaya, Jakarta; Guru Besar tamu di American University, USA 2013-skrg. Beliau adalah Pendiri Kios Informasi – penjangkauan terhadap Penasun 2001 dan Pendiri dan supervisor Lentera Anak Pelangi – layanan anak dengan HIV. Pak Ir pernah mendapatkan Penghargaan Nasional BNN 2005; Penghargaan GERAM 2013; Penghargaan Kementerian Kesehatan 2013 “Ksatria Bakti Husada Arutala”. Bagi Pak Ir, setiap hidup anak sangat berharga untuk diselamatkan karena anak adalah masa depan.

Nita
Direktur Program

Lahir di Padang, 18 Februari 1971.
Nita menyelesaikan studi kedokterannya dari Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya Jakarta. Ia percaya bahwa setiap anak adalah masa depan bangsa. Mimpinya adalah setiap anak mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan sebagai anak-anak dan menjadi seseorang yang bisa membangun negeri ini lebih baik. Tidak melanjutkan karirnya dengan membuka praktek di bidangnya tidak membuat mimpinya sirna. Saat ini ia bekerja sebagai manajer di Sola Interactive. Keterlibatannya dalam Lentera Anak Pelangi menjadi jalannya untuk mewujudkan mimpi tersebut.

stellaTim Psikososial

Stella adalah alumni fakultas psikologi UNIKA Atma Jaya yang mengenal Lentera Anak Pelangi karena pengalaman menjadi relawan saat kuliah. Pengalaman berorganisasi di bidang sosial serta paparan ilmu dari Prof. Irwanto menumbuhkan keyakinan dalam diri Stella bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang berharga dan penting dalam perjalanan hidup seseorang. Hal ini yang membuat Stella memiliki kepedulian terhadap isu kelompok marjinal, terutama yang berhubungan dengan anak. Bergabungnya Stella dengan Lentera Anak Pelangi ia rasakan sebagai cita-cita idealis yang menjadi nyata.

 

tiara

Koordinator Manajer Kasus, Tim Psikososial 

Lahir di Bengkulu, 24 September 1992.
Sebelumnya pernah bekerja di Yayasan Pupa (2013-2016) sebagai Koordinator Pendamping Kominutas. Bergabung di Lentera Anak Pelangi pada tahun 2016 sebagai tim psikososial. Bagi Tiara, perjalanan hidup membawanya lebih dalam pada permenungan untuk mendekap dan mengizinkan segala rasa untuk hadir, termasuk rasa sakit atau tidak enak. Hal itulah yang membuatnya begitu kuat dan yakin untuk menjadi bagian dari LAP yang mendampingi anak yang sedang sakit.

tasyaManajer Advokasi

Lahir di Tembagapura, 27 Agustus 1983
Tasya menamatkan studinya dari Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya. Setelah lulus Tasya pernah bekerja sebagai fulltime internship untuk sales development di UNICEF Jakarta selama 1,5 tahun. Namun selama di sana ia tidak memiliki kesempatan untuk bekerja langsung dengan anak-anak. Tahun 2009 Tasya ditawari untuk bergabung sebagai asisten koordinator psikososial di Lentera Anak Pelangi. Tahun 2010 ia menjabat sebagai koordinator divisi psikososial LAP dan pada tahun 2012 menjadi manajer advokasi dan edukasi di LAP. Baginya, satu anak adalah satu nyawa dan setiap nyawa berharga. Kesempatan bekerja di LAP mewujudkan mimpinya untuk bisa mengabdi pada anak-anak yang sering dianggap bukan prioritas. Mimpinya, suatu hari ia bisa kembali ke tanah kelahirannya di Papua dan membangun program untuk anak-anak HIV di sana.

rudi
Divisi Advokasi 

Lahir di Jakarta, 20 Januari 1983.
Sebelumnya pernah bekerja di Yayasan Pelikan (2008-2010) dan Yayasan Mitra Surya Mandiri (2010-sekarang). Bergabung di Lentera Anak Pelangi pada tahun 2011 sebagai volunteer, lalu direkut menjadi manajer kasus. Bagi Rudi, bekerja di Lentera Anak Pelangi sesuai dengan panggilan untuk melayani anak-anak yang kurang beruntung, salah satunya anak dengan HIV-AIDS.

Wulan
Administrasi

Lahir di Jakarta, 1 Desember 1978.
Wulan menamatkan studinya dari D3 manajemen perbankan. Sebelum bekerja di Lentera Anak Pelangi, ia Pernah bekerja di Pharos Ind. sebagai sekertaris branch manager dan di Bank Bumiputera cabang Depok. Wulan bergabung di LAP sebagai manajer kasus karena termotivasi untuk mengupayakan agar anak-anak HIV bisa hidup sehat dan bersosialisasi secara normal di masyarakat walaupun mereka punya keterbatasan.

nur


Manajer Kasus

Lahir di Jakarta, 4 April 1972.
Ibu dari 5 anak ini awalnya adalah ibu rumah tangga. Keterlibatannya sebagai anggota Kelompok Dukungan Sebaya yang  aktif berbuah pada perekrutan dirinya sebagai Asisten Manajer Kasus di Lentera Anak Pelangi sejak tahun 2013. Tahun 2015 Nur diangkat menjadi Manajer Kasus di Lentera Anak Pelangi. Kepeduliannya terhadap anak-anak muncul karena digerakkan oleh pengalaman yang sama yang dialami anaknya.

Adit
Asisten Manajer Kasus

Lahir di Jakarta, 9 Desember 1973.
Adit pernah bekerja di PT. PCI (Pacific Consultant International) sebagai administrasi dan di PT. Indomaru Lestari sebagai HRD. Ia mulai aktif di bidang sosial dan HIV  sejak tahun 2012 sebagai petugas lapangan. Dalam melakukan tugasnya, ia tidak jarang menemui kasus HIV pada anak. Menurutnya masih sedikit sekali yang mempedulikan anak-anak tersebut sehingga hal ini yang mendorongnya untuk bergabung di Lentera Anak Pelangi.

Mona
Konsultan Psikososial

Lahir di Jakarta, 15 Oktober 1978.
Saat ini Mona menjabar sebagai Managing Director Ad Familia Indonesia. Ia juga adalah Psikolog klinis yang berpraktek di Ad Familia Indonesia. Mona juga mengajar sebagai dosen honorer Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya. Tidak hanya itu saja, ia juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Ikatan Psikolog Klinis DKI Jakarta dan konsultan SDM di Enlighten Human Development Center. Mona juga menulis buku Heaven on Earth: Potret Kehidupan Manusia. Ia bergabung di LAP karena kecintaannya pada manusia. Selain itu ia terlajur kenal dan sayang kepada anak-anak yang didampingi. Inspirasi Mona dalam melakukan pelayanan di LAP adalah Pak Irwanto. Menurut Mona, orang-orang di LAP antik-antik dan seru. Dengan diberikan kepercayaan untuk mengembangkan program psikososial LAP, Mona merasa bermakna.