spanduk low

 

SIARAN PERS

UNTUK DISIARKAN SEGERA

 

Pameran foto Lentera Anak Pelangi: “ONE CHILD ONE LIFE PROJEKT”

#OneChildOneLifeProjekt

Jakarta, 4 Maret 2017

Sejak 1987 hingga September 2016, Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kumulatif infeksi HIV di Indonesia sebanyak 219.036 kasus. Sedangkan jumlah kumulatif infeksi HIV tahun 2010-2016 adalah sebanyak 184.779 kasus, di mana 13.263 (7,18%) di antaranya adalah anak-anak berusia 0-19 tahun (Ditjen P2P, Kementerian Kesehatan RI, 2016). Jumlah ini akan terus bertambah jika upaya pencegahan penularan tidak dilakukan. Program penanggulangan HIV selama ini lebih banyak dipusatkan pada populasi kunci seperti pengguna napza suntik, pekerja seks, dan kelompok berisiko tinggi lainnya. Anak yang terlahir dengan HIV sering luput dalam program pemerintah, padahal anak adalah muara dari perjalanan penularan HIV dalam kelompok risiko tinggi tersebut.

Kementerian Kesehatan berkomitmen kuat untuk menanggulangi HIV dan AIDS. Salah satu upayanya adalah melalui penyediaan obat Anti Retroviral (ARV) bagi orang dengan HIV, termasuk anak. “Sampai dengan bulan November 2016 tercatat 74.879 orang dengan HIV dalam pengobatan ARV di Indonesia dan sekitar 4% di antaranya adalah anak-anak,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr.Wiendra Waworuntu, MKes. Hal ini juga didukung oleh David Bridger, Country Director UNAIDS Indonesia yang mengatakan “Jika anak mendapatkan akses pada pengobatan yang tepat, maka anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik, seperti anak-anak lainnya.”

Persoalan HIV, baik pada orang dewasa maupun anak, sering dilihat sebagai isu kesehatan semata. Padahal ada banyak aspek dalam kehidupan yang akhirnya terdampak. Tantangan yang dihadapi selain masalah kesehatan adalah akses terhadap pendidikan. Diskriminasi kerap terjadi di lingkungan sekolah sehingga anak harus keluar dan mencari sekolah baru. Untuk menanggulangi hal ini perlu dipikirkan bersama suatu platform dan kerangka yang memungkinkan keterlibatan lintas sektor yang berkesinambungan, seperti disampaikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid.

Tantangan lain yang dihadapi adalah masalah pengasuhan yang menjadi tanggung jawab wali seperti kakek dan nenek atau anggota keluarga lain. Ketidaklayakan tempat tinggal dan kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan juga berdampak pada kualitas hidup anak dengan HIV. Untuk mewujudkan hidup berkualitas bagi anak dengan HIV, peran penting dan komitmen berbagai pihak termasuk pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan. Saat ini, layanan serta program yang secara komprehensif melayani anak HIV masih sedikit jumlahnya. Nahar, SH, MSi., Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI mengatakan bahwa pelibatan Pekerja Sosial dalam pencegahan, perlindungan dan rehabilitasi sosial bagi anak dengan HIV perlu terus diupayakan melalui kerjasama kemitraan dengan lembaga atau institusi masyarakat yang memiliki kepedulian dalam perlindungan anak dengan HIV.

Melalui pameran foto “One Child One Life Projekt”, Lentera Anak Pelangi (LAP) ingin membuka kesempatan seluasnya kepada masyarakat umum untuk mengetahui lebih jauh tentang  kehidupan anak dengan HIV. Pameran ini diharapkan dapat menjadi gagasan awal bagi semua pihak untuk ikut terlibat dalam program-program layanan dan dukungan bagi anak dengan HIV. Selain sebagai sarana advokasi dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pameran ini juga merupakan bentuk apresiasi bagi para relawan, masyarakat, pemerintah, serta semua pihak yang sudah memberikan dukungannya kepada LAP dalam mendampingi anak HIV di Jakarta.

LAP didirikan pada tahun 2009 atas inisiasi Prof. Irwanto, Ph.D., untuk menjawab tantangan yang ada di masyarakat mengenai anak-anak terinfeksi HIV. LAP merupakan bagian dari unit pengabdian masyarakat yang bernaung di bawah Pusat Penelitian HIV (PPH) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Sebagai program pendampingan anak dengan HIV pertama di Indonesia, LAP bertujuan meningkatkan kualitas hidup anak dengan HIV. Selain itu, LAP juga mengedukasi masyarakat dan pemerintah agar mengambil bagian dalam upaya pengurangan dampak buruk pada anak.  Melalui program rawatan berbasis rumah, LAP ingin memastikan bahwa setiap anak yang didampingi memperoleh akses pada pengasuhan keluarga, fasilitas kesehatan, pendidikan, serta tidak mengalami diskriminasi di masyarakat. Upaya ini didukung oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) melalui dana Indonesian Partnership Fund (IPF) selama 1,5 tahun. Sejak tahun 2011, LAP memperoleh dukungan dari berbagai kelompok masyarakat dan swasta sampai dengan hari ini

Saat ini LAP mendampingi 100 anak di DKI Jakarta dan sekitarnya. Tim LAP terdiri dari staf tetap, paruh waktu, dan relawan dengan latar belakang beragam yang bekerja dengan sepenuh hati. Tanpa bantuan donor, relawan, masyarakat, pemerintah dan semua pihak yang telah memberikan dukungan bagi LAP, program ini tidak dapat berjalan sampai saat ini.

Pada akhirnya, dukungan yang diberikan oleh semua pihak sangatlah berarti. Apapun bentuknya, dukungan itu laksana lentera bagi perjalanan hidup anak dengan HIV untuk mengalami hidup yang lebih berkualitas serta memiliki harapan yang lebih baik di masa depan, sama seperti anak-anak yang lain.

Informasi lebih lanjut hubungi:
Natasya Sitorus (0813-9920-9827)
natasyasitorus@yahoo.com
Manajer Advokasi Lentera Anak Pelangi