bersuara

Nabil, delapan tahun, tahu di dalam darahnya ada virus yang membuatnya gampang jatuh sakit. Virus itu bernama HIV. Sang nenek memberitahunya suatu kali. Tapi yang tidak ia tahu adalah alasan teman-teman dan orang tua mereka berubah sikap di sekolah.

Suatu hari tak ada lagi yang mengajaknya bermain bola. Sepulang sekolah, para orang tua murid bergegas menjemput anak mereka sambil menatapnya dengan tajam. Nabil tak paham mengapa ia dijauhi. Dua pekan kemudian, atas desakan dua pertiga orang tua murid di SD swasta itu, nenek mengeluarkan Nabil dari sana. Ia pun mencari sekolah baru.

Pendekatan pada pihak sekolah dan orang tua murid bukannya tidak dilakukan. Penyuluhan tentang penularan dan pencegahan HIV sudah diberikan. Namun, stigma dan diskriminasi telanjur membubung. Mereka menjegal hak Nabil belajar di sekolah tersebut.

Baca selengkapnya diĀ http://www.ksi-indonesia.org/id/index.php/publications/2016/12/16/136/bersuara-untuk-mereka-yang-didiskriminasi.html