Jakarta, 28 Februari 2019
    Kepada Yang Terhormat
    Presiden Republik Indonesia
    Bapak Ir.  H. Joko Widodo

    Pak Presiden yang baik,
    Semoga surat ini menemui Bapak dalam keadaan sehat sentosa. Pasti Bapak setiap harinya cukup lelah mengurus bangsa ini. Namun kami yakin, Bapak pasti mengerjakan semuanya dengan sepenuh hati, untuk Indonesia yang lebih baik.

    Pak Jokowi yang baik,Tahukah Bapak bahwa pada awal Februari 2019 lalu, sekitar 4 km dari kediaman Bapak di Solo, ada 14 anak yang dikeluarkan dari sekolah karena diketahui terinfeksi HIV? 14 anak yang didampingi oleh Yayasan Lentera Surakarta (YLS) ini terpaksa keluar atas desakan sebagian besar orang tua murid di SDN Purwotomo, Pak. Ini bukan kali pertama anak-anak dengan HIV, termasuk anak yang didampingi oleh YLS mengalami diskriminasi. Status HIV yang melekat pada anak-anak ini mengakibatkan mereka sering mengalami penolakan, pengusiran, serta dirampas haknya. 14 anak di Surakarta, termasuk anak-anak serta pengurus YLS yang sejak tahun 2013 telah 21 kali mengalami penolakan dari lingkungan juga oleh sekolah dan orang tua murid.

    Pak Jokowi yang baik,
    Anak-anak yang terlahir dengan HIV ini tidak bisa memilih dari siapa mereka dilahirkan. Jika mereka bisa memilih, pasti mereka akan memilih terlahir dari orang tua yang sehat dan sejahtera.

    Pak Presiden yang baik,
    Jangan, Pak. Jangan instruksikan pada Pak Gubernur untuk mengatakan bahwa apabila ada diskriminasi di sekolah, dipersilakan untuk melaporkan langsung kepada Walikota. Anak-anak ini tak lagi punya orang tua. Mereka sudah yatim piatu.

    Pak Jokowi yang baik,
    Katanya, orang tua murid terlalu takut bahwa anak-anak HIV itu akan menularkan HIV kepada anak-anak lain di dalam lingkungan sekolah. Padahal orang dengan HIV, termasuk anak, setelah patuh menjalani terapi antiretroviral (ARV), kemungkinan mereka menularkan kepada orang lain menjadi sangat kecil sekali. 14 anak di Solo ini sudah patuh mengikuti terapi ARV, Pak. Kecil sekali kemungkinan mereka dapat menularkan HIV pada anak lain atau orang lain.

    Pak Jokowi yang baik,
    Tahukah Bapak bahwa mencari sekolah yang baru bukanlah hal tersulit yang harus dilakukan pasca terjadinya kasus diskriminasi? Hal tersulit adalah membantu anak melalu masa sulit setelah penolakan. Hal tersulit juga adalah memulihkan anak dari trauma yang sangat mungkin mereka alami setelah diskriminasi.

    Pak Jokowi yang baik,
    Tahukah Bapak bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang berkomitmen untuk mewujudkan 3 Zero dalam upaya penganggulangan HIV dan AIDS? Zero yang pertama adalah nol kasus infeksi baru HIV. Zero yang kedua adalah nol stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV. Zero yang ketiga adalah nol kematian yang berhubungan dengan AIDS. Jangan kaget Pak jika rapor Indonesia di tahun 2030 nanti jelek karena zero yang kedua gagal tercapai akibat kasus-kasus diskriminasi yang dialami anak dengan HIV di lingkungan sekolah masih terus dibiarkan.

    Pak Jokowi yang baik,
    Selalu haru rasanya tiap kali melihat Bapak begitu dekat dengan anak-anak Indonesia. Bapak dengan ramahnya memeluk Rafi, anak berkebutuhan khusus yang Bapak temui usai shalat Jumat di Cianjur.  Bapak juga bisa menggendong dua anak Papua saat kunjungan Bapak ke Asmat. Jika Bapak bisa begitu penuh kasih pada anak-anak Indonesia, maka kami yakin Pak Jokowi juga bisa memeluk dan menggendong anak-anak HIV di Indonesia. Kami yakin Bapak mampu mewujudkan Indonesia yang ramah terhadap anak, di mana setiap anak memperoleh dan terpenuhi hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan.

    Pak Jokowi yang baik,
    Jangan, Pak. Jangan minta mereka untuk mengalah. Sudah terlalu sering mereka mengalah pada kekeraskepalaan orang tua murid yang begitu takut anaknya tertular HIV di sekolah. Jangan, Pak. Jangan tawarkan jalur pendidikan alternatif atau homeschooling. Bukan karena homeschooling buruk, Pak. Tapi bukan itu yang dibutuhkan anak-anak dengan HIV. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan yang sama seperti anak-anak Indonesia lainnya. Yang mereka butuhkan adalah penerimaan serta pengakuan bahwa mereka layak memperoleh dan dipenuhi hak-haknya karena mereka juga adalah anak Indonesia.

    Pak Jokowi yang baik,
    Kabar terakhir yang kami dengar dari Surakarta, anak-anak ini sudah bisa kembali bersekolah. Terima kasih karena Pak Walikota sudah membantu mencarikan dan mendaftarkan anak-anak ini di sekolah. Tapi Pak, bukan tak mungkin kejadian serupa terjadi di kota atau tempat lain.

    Pak Jokowi yang baik,
    Negara ini sudah punya sistem dan undang-undang yang seharusnya secara maksimal dapat memberikan perlindungan pada setiap anak. Dalam hal diskriminasi di lingkungan sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pendidikan diharapkan dapat mengambil sikap mendukung serta memenuhi hak anak dengan HIV untuk bersekolah. Mungkin harus ada, Pak, sanksi yang tegas untuk sekolah yang membiarkan anak dengan HIV terdiskriminasi. Undang-Undang No.20 Tahun 2003 sudah menjadi payung hukum yang seharusnya menjamin bahwa sistem pendidikan nasional bebas diskriminasi.

    Pak Jokowi yang baik,
    1 Maret selalu diperingati sebagai Hari Nol Diskriminasi.  Semoga Bapak bisa memanfaatkan momen ini untuk merangkul setiap lapisan masyarakat agar berhenti menstigma dan mendiskriminasi orang dengan HIV, termasuk anak dengan HIV.

    Pak Jokowi yang baik,
    Semoga surat ini Bapak terima dan bisa Bapak tanggapi. Terima kasih banyak Pak.

     

    Salam,
    Natasya Sitorus
    Manajer Advokasi Lentera Anak Pelangi,  Jakarta
    (Program pendampingan anak dengan HIV di Jakarta)
    081399209827
    natasyasitorus@yahoo.com