Oleh: Rudi Mulia, Manajer Kasus Anak Remaja Lentera Anak Pelangi

    Salah satu bentuk penanggulangan untuk mencapai ZERO AIDS bagi orang yang hidup dengan HIV (ODHA) adalah mengikuti terapi Anti Retroviral (ARV). Untuk mendapatkan obat ini tidaklah susah, karena sudah banyak rumah sakit yang menyediakannya dan dapat ditebus dengan cuma-cuma alias gratis. Obat ARV bisa diakses di rumah sakit umum daerah atau rumah sakit rujukan serta puskesmas yang menjadi pengampu bagi ODHA.

    Begitupun dengan anak yang hidup dengan HIV (ADHA). Sudah banyak fasilitas kesehatan (Faskes) yang menyediakan layanan obat untuk anak. Mereka bisa mengambilnya ketika datang berobat ke faskes yang menyediakan layanan terapi ARV. Hanya bedanya untuk anak-anak untuk pengambilan dan pengobatan harus ada pihak keluarga/wali yang ikut menemani.

    Namun nyatanya, tidak semua orang dewasa maupun anak-anak bisa mengikuti terapi ARV dengan baik. Sebagai program pendampingan ADHA di Jakarta dan sekitarnya, Lentera Anak Pelangi menemukan kasus ini dalam layanan pendampingan. Tidak sedikit anak yang gagal dalam terapi HIV. Tapi yang lebih memprihatinkan adalah tidak sedikit yang gagal terapi ketika mereka beranjak remaja dan sudah mengetahui status HIVnya.  

    Banyak faktor yang menyebabkan anak remaja gagal dalam mengikuti terapi ARV. Beberapa faktor yang kami temui adalah:

    • Rendahnya pengetahuan tentang pentingnya obat ARV. Beberapa anak remaja beranggapan selama mereka sehat dan tidak memiliki sakit serius, obat ARV tidak mereka perlukan lagi. Ketidakpatuhan terapi ARV akan mengakibatkan virus HIV semakin berkembang biak dalam tubuh mereka.
    • Minimnya pengawasan dari pihak keluarga, khususnya dalam pemantauan minum obat. Karena merasa anak remaja sudah dewasa, maka jadwal minum obatnya tidak diperhatikan lagi.
    • Kemiskinan keluarga tetap menjadi salah satu faktor anak remaja gagal dalam terapi. Biaya transport untuk mengambil obat, lalu hilangnya pendapatan karena harus mengambil obat, menjadi alasan pendamping/wali anak enggan untuk mengantar anak berobat
    • Rendahnya kesadaran dari anak remaja itu sendiri. Alasan malas, bosan, sering kali terucap kala ditanya kenapa sudah tidak ikut terapi ARV lagi. Bahkan terkadang mereka dengan sengaja tidak patuh (telat) dalam terapi ARV
    • Kurang dukungan keluarga karena kesibukan masing-masing. Dan bisa juga karena status anak yang tidak diketahui oleh keluarga besar sehingga mereka terabaikan dalam proses terapi

    Dibutuhkan kerja ekstra untuk pendampingan ADHA remaja. Yang paling penting rasa percaya dari mereka sangat dibutuhkan. Mereka ingin dianggap sebagai teman dan sebagai orang yang siap mendengarkan setiap cerita mereka. Dukungan kepada mereka dibutuhkan untuk mengurangi angka kematian akibat gagalnya terapi ARV.